So here are things that happen when you like books more than …
… Going to a party:
Hey, do you want to go to this party?
I only have like 15 chapters left in this book, so, I’m… going to stay home.… Fashionable Accessories:
Why don’t you get that awesome clutch to go with your new dress?
It’s too small. I can’t even fit a mass market in that. No thanks.… TV Must-sees:
Have you read the book that that new hot show is based on?
Yeah, eight years ago, when it came out. WHERE WERE YOU WHEN I NEEDED TO TALK ABOUT MY FEELINGS THEN?… Commuting:
Was that your stop?
What? ::Closes book and looks around in confusion:: Where am I? Crap.more at Book Riot
Lol, thats
“The motion of the eyes is the fastest motion in the body. The displacement of the eye has the most rapid acceleration and rapid deceleration. No other muscle can do it like the eye can. Ninety-nine percent of the time we’re dealing with somebody, we’re looking at their eyes. We’re not looking at their nose or their lips or whatever. So without knowing it, we have incorporated this idea of blinking into how we’re dealing with people. Can we trust them, or not? Are they telling the truth?”
From the archives: Josh Melnick and Walter Murch in conversation.
Photography Credit Josh Melnick, who used a scientific research camera to film portraits of New York City subway riders in slow motion.
Okey, ive just read this damn cursed novel.
Dari belakang bukunya saya liat udah gak beres, ini cerita bakal kayak gimana. Well, tapi saya sedikit tertantang untuk membaca buku ini pada akhirnya, gak akan seburuk keliatannya kali yaa—buruk disini bukan dari isi bukunya yang terlihat buruk tapi dampak dari buku itu untuk saya yang kemungkinan buruk.
Akhirnya saya mulai baca, dan damn, dari awal buku itu udah nyuri-nyuri buat gampar saya, sampai pada akhirnya dia berhasil touch it down di muka saya. Beberapa hal yang membuat saya tertampar itu berhasil menghentikan saya untuk terus membaca novel itu. Yap, i was scared of being mocked for every word she said on that book. Tapi pada akhirnya saya balik baca lagi itu buku, secara si lender aneh kenapa itu buku belum selesai juga, dan saya ga berniat untuk bercerita alesan detil nya kenapa.
Semakin saya baca ternyata semakin jauh cerita itu membawa saya , dan hal itu menimbulkan perasaan baru. Hm, perasaan iri.
Pertama, saya mulai iri pada si penulis buku itu karena saya pikir dia salah satu penulis chick flick indonesia yang paling resourcefull yang bukunya pernah saya baca, mungkin bahkan terlalu resourcefull untuk seseorang yang tidak mengerti satupun istilah,nama, judul lagu, judul buku, judul film yang ia sebutkan. Well, untungnya, saya pernah se resourcefull itu, dan saya mengerti sebagian besar apa yang ia sebutkan di novel ini. Saya iri ketika dia bisa menuangkan semua itu di bukunya ini, saya iri karena saya yang sekarang ini jauh dari seluruh pengetahuan umum itu. Mungkin sesekali saya mendapat sedikit udara bersih dari teman se frekuensi saya nan jauh disana itu, tapi sisanya, saya kini ada dalam dunia baru yang mengerikannya mulai saya adaptasi sebagai dunia baru saya. Totally lost.
Lalu saya iri —okey, ini aneh— kepada tokoh wanita nya. Walaupun dia terlihat menyedihkan, si penulis memberi kesempatan untuk tokoh wanita ini untuk ‘mencoba’. That’s what i’m dying to try too, failed i guess. Shitty fact that i have to face.
Pada akhirnya, setelah seluruh tamparan, jungkir balik, iri, dengki, dendam—okey lebay— saya rasa buku ini cukup worth it untuk dibaca. Terutama untuk seseorang seperti saya yang mungkin sesekali bisa kali ya dapet tamparan dan jungkir balik kinda stuff itu. So far so good, all through finally, fiuhh.
Antologi Rasa by Ika Natassa.
Fin.Xoxo.
Awareness of what is so real and essential, so hidden in plain sight all around us, that we have to keep reminding ourselves over and over. -David Foster Wallace -
Yes, this is water silvia. So have fun and face it.
Movie Marathon
Movie marathon berlanjut, berarti semakin berkurang film-film saya yang belum tertonton. which is good.
dan mari kita review film-film yang hari ini kebetulan saya tonton itu.
#14 Miss Congeniality 2
Well menurut saya, sekuel aksi agen Gracie Hart kali ini gak sehebat yang pertama. Entah kenapa film pertamanya bisa membuat saya tertawa lepas melihat kekonyolan-kekonyolan yang dibuat Sandra Bullock, tapi sekuel nya ini menurut saya agak sedikit memaksakan. Terbukti karena di sekuel nya ini, Gracie Hart tidak terlalu berhasil membuat saya tertawa terbahak. Namun, film ini saya nilai masih bisa menghibur kita yang sedang suntuk.
#15 Sherlock Holmes : A Game of Shadows
Sherly is back ! Seperti biasa Holmes dengan gaya nya yang out of the box bisa membuat pikiran kita melakukan gymnastic. Selalu membuat semuanya unpredictable. Dan kali ini Dr.watson tidak hanya dijadikan sebagai batu loncatan semata, dia ikut beraksi. Overall, film ini menghibur. Robert Downey memang juara untuk peran-peran kayak gini haha.
#16 The Wedding Game
Well, saya sepertinya tidak mengerti kenapa saya bisa berakhir menonton film ini. Tiba-tiba saya penasaran bagaimana cerita dari film ini, dan akhirnya saya download-lah film ini. Dan kesan pertama saya adalah, waw. Membuat saya kembali bertanya mengapa saya mendownload film ini dan menontonnya. Sampai habis.
Ceritanya sebenarnya sedikit umum. Comedy romance semacamnya. Tapi sekali lagi, saya tidak mengerti kenapa dari awal saya memiliki niatan untuk mendownload, menonton, dan mereview nya. Hmm.
Fin. Xoxo.
Lets begin the reviews for today’s watching activity !
Hari ini saya nonton film asia, dari yang ngakak, bikin iri sampai yang miris.
#11 Rich Man Poor Woman in New York
![]()
Ini film Jepang, spesial dari drama seri yang judulnya juga sama yaitu Rich Man Poor Woman. Satu hal, film ini gak akan bikin bosen karena, satu, ini film bikin kita berangan-angan tentang kemungkinan suatu inovasi teknologi benar-benar ada. Dua, Toru Hyuga jadi leading role yang ga akan bosen untuk ditonton. Ketiga, ada satu hal di Toru Hyuga yang bikin saya diem nonton dan senyum. Efeknya jelas beda sama Chiaki di Nodame Cantabile.Worth to try to watch. Superb.
#12 Attention Please — Hawaii
![]()
Ini masih film jepang, tentang perjuangan seorang wanita, dari Rocker menjadi seorang Cabin Attendant yang cantik dan lemah lembut. Dari dramanya Misaki akhirnya berhasil melewati tranning pramugarinya, lulus dan berubah, di spesial nya ini, Misaki kembali berjuang untuk mencapai level pramugari dengan penerbangan internasional, dan sama seperti dramanya, pastinya kita diajak untuk tertawa.
#13 Never Ending Story
![]()
Lanjut ke film Korea, ini film miris banget. Satu cewek dan satu cowok, mereka sama-sama sakit tumor otak, dan hidupnya cuman tersisa tiga bulan. Apa yang terjadi? Yap, mereka ketemu, keliling sama-sama untuk bersiap, dimulai dari melihat-lihat tempat pengkremasian, guci abu kremasi, kain kafan, pemakaman, peti mati, dan hal lain yang bikin film ini tambah lebih miris. Berhubung Silvia ini sedikit gampang buat nangis, yap, dan menagislah akhirnya. Surprisingly, walaupun kalau kita pikir-pikir film ini miris dan akan berakhir sedih, tapi ternyata, diakhir, film ini seolah dibawa untuk berakhir dengan bahagia.
Semua film ini ringan dan cocok untuk orang yang sedang hanya menginginkan sebuah tontonan yang menghibur.
Fin. Xoxo.
When I, in a helmet of smoke,
come back to my senses,
my bird, my nighttime ally,
when I’m ablaze in the night
the dark grove crackles
and I hammer the sparks from my limbs.And when I stay ablaze as I am,
loved by the flame
until the resin streams out of the trunks,
drips over the wounds and
spins the earth warm into thread
(and though you rob my heart at night,
my bird of belief, my bird of faith!)
the watchtower moves into brightness
where you, tranquil now,
alight in magnificent peace—
whatever comes to pass.—Ingeborg Bachmann, from “My Bird”
Photography Credit Kate Joyce